Baru menikah rasanya seperti membuka lembaran baru: banyak hal seru, tapi juga banyak tanggung jawab. Salah satunya—dan sering bikin pusing—adalah soal uang. Kalau tidak diatur sejak awal, masalah finansial bisa jadi sumber gesekan dalam rumah tangga.
Nah, biar perjalanan keluarga muda tetap harmonis, yuk mulai bangun kebiasaan finansial sehat sejak dini.
1. Tentukan Tujuan Bersama Pasangan
Keuangan keluarga yang sehat berawal dari kesepakatan visi. Duduklah bersama pasangan, lalu tanyakan:
- Apa tujuan jangka pendek kita? (misalnya, dana darurat, beli motor, liburan keluarga)
- Apa tujuan jangka menengah? (rumah, pendidikan anak)
- Apa tujuan jangka panjang? (pensiun tenang, investasi jangka panjang)
Visi ini menjadi kompas dalam setiap keputusan finansial.
2. Susun Anggaran Bulanan
Anggaran bukan berarti pelit, melainkan peta keuangan agar tidak tersesat. Rumus sederhana bisa membantu:
- 50% kebutuhan: makan, transportasi, cicilan, listrik
- 30% keinginan: hiburan, hobi, liburan
- 20% tabungan & investasi: dana darurat, pendidikan, pensiun
Dengan pembagian ini, setiap pengeluaran punya porsinya sendiri—jadi uang tidak habis tanpa jejak.
3. Siapkan Dana Darurat
Kejadian tak terduga bisa datang kapan saja. Idealnya:
- 6–12 bulan jika sudah punya anak
- 3–6 bulan pengeluaran untuk pasangan baru
Simpan di tabungan khusus biar nggak kepakai untuk jajan impulsif.
4. Jangan Lupa Asuransi
Kesehatan mahal, apalagi kalau tiba-tiba sakit. Asuransi kesehatan bisa jadi penyelamat tabungan. Kalau ada anak atau pasangan bergantung, asuransi jiwa juga penting banget.
5. Mulai Investasi dari Sekarang
Semakin cepat memulai, semakin panjang waktu uang berkembang. Keluarga muda bisa memilih:
- Reksa Dana → cocok untuk pemula, modal kecil
- Obligasi/SBN Ritel → aman, dijamin negara
- Emas → stabil untuk jangka menengah
- Saham → potensi besar, tapi perlu pengetahuan
Ingat: investasi berbeda dengan spekulasi. Pahami dulu instrumennya sebelum terjun.
6. Utang Boleh, Tapi Jangan Kebablasan
Pegang aturan: total cicilan maksimal 30% dari gaji.
Bedakan utang produktif (rumah, pendidikan) dengan utang konsumtif (gadget, lifestyle). Jangan sampai cicilan bikin stres tiap akhir bulan.
7. Komunikasi Adalah Kunci
Keuangan keluarga bukan tentang siapa yang lebih banyak menghasilkan, melainkan bagaimana uang dikelola bersama. Terapkan:
- Rutin “rapat kecil” bulanan untuk evaluasi keuangan
- Gunakan aplikasi pencatat keuangan bersama
- Jangan sembunyikan utang atau pengeluaran
Keterbukaan mencegah salah paham dan memperkuat kepercayaan.
Mengelola keuangan keluarga muda memang butuh adaptasi, tapi ini juga kesempatan emas buat bikin fondasi finansial yang kokoh. Ingat, uang bukan tujuan utama, tapi dengan pengelolaan yang baik, hidup bisa lebih tenang dan bahagia.
Jadi, mulai sekarang: tentukan tujuan, bikin anggaran, sisihkan tabungan, dan nikmati perjalanan keluarga muda kalian dengan hati yang lebih lega.